Rabu, 02 Maret 2011

Aneka ragam budaya Jepang (bunka, matsuri, ongaku, eiga , iro-iro aru)

Negara Jepang kaya dengan berbagai kebudayaan leluhurnya yang beraneka ragam. Walaupun saat ini perkembangan teknologi di Jepang terus up date dalam hitungan perdetik , namun sisi tradisional masuh terus dilestarikan hingga sekarang ini. Berikut ini adalah salah satu dari berbagai macam kebudayaan Jepang yang masih terus berlangsung hingga saat ini :

Matsuri (祭, Matsuri) adalah kata dalam bahasa Jepang yang menurut pengertian agama Shinto berarti ritual yang dipersembahkan untuk Kami, sedangkan menurut pengertian sekularisme berarti festival, perayaan atau hari libur perayaan.

Matsuri diadakan di banyak tempat di Jepang dan pada umumnya diselenggarakan jinja atau kuil, walaupun ada juga matsuri yang diselenggarakan gereja dan matsuri yang tidak berkaitan dengan institusi keagamaan. Di daerah Kyushu, matsuri yang dilangsungkan pada musim gugur disebut Kunchi.

Sebagian besar matsuri diselenggarakan dengan maksud untuk mendoakan keberhasilan tangkapan ikan dan keberhasilan panen (beras, gandum, kacang, jawawut, jagung), kesuksesan dalam bisnis, kesembuhan dan kekebalan terhadap penyakit, keselamatan dari bencana, dan sebagai ucapan terima kasih setelah berhasil dalam menyelesaikan suatu tugas berat. Matsuri juga diadakan untuk merayakan tradisi yang berkaitan dengan pergantian musim atau mendoakan arwah tokoh terkenal. Makna upacara yang dilakukan dan waktu pelaksanaan matsuri beraneka ragam seusai dengan tujuan penyelenggaraan matsuri. Matsuri yang mempunyai tujuan dan maksud yang sama dapat mempunyai makna ritual yang berbeda tergantung pada daerahnya.

Pada penyelenggaraan matsuri hampir selalu bisa ditemui prosesi atau arak-arakan Mikoshi, Dashi (Danjiri) dan Yatai yang semuanya merupakan nama-nama kendaraan berisi Kami atau objek pemujaan. Pada matsuri juga bisa dijumpai Chigo (anak kecil dalam prosesi), Miko (anak gadis pelaksana ritual), Tekomai (laki-laki berpakaian wanita), Hayashi (musik khas matsuri), penari, peserta dan penonton yang berdandan dan berpakaian bagus, dan pasar kaget beraneka macam makanan dan permainan.

Sejarah

Matsuri berasal dari kata matsuru (祀る, matsuru? menyembah, memuja) yang berarti pemujaan terhadap Kami atau ritual yang terkait. Dalam teologi agama Shinto dikenal empat unsur dalam matsuri: penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Matsuri yang paling tua yang dikenal dalam mitologi Jepang adalah ritual yang dilakukan di depan Amano Iwato.

Matsuri dalam bentuk pembacaan doa masih tersisa seperti dalam bentuk Kigansai (permohonan secara individu kepada jinja atau kuil untuk didoakan dan Jichinsai (upacara sebelum pendirian bangunan atau konstruksi). Pembacaan doa yang dilakukan pendeta Shinto untuk individu atau kelompok orang di tempat yang tidak terlihat orang lain merupakan bentuk awal dari matsuri. Pada saat ini, Ise Jingū merupakan salah satu contoh kuil agama Shinto yang masih menyelenggarakan matsuri dalam bentuk pembacaan doa yang eksklusif bagi kalangan terbatas dan peserta umum tidak dibolehkan ikut serta.

Sesuai dengan perkembangan zaman, tujuan penyelenggaraan matsuri sering melenceng jauh dari maksud matsuri yang sebenarnya. Penyelenggaraan matsuri sering menjadi satu-satunya tujuan dilangsungkannya matsuri, sedangkan matsuri hanya tinggal sebagai wacana dan tanpa makna religius.

Tiga matsuri terbesar

* Gion Matsuri (Yasaka-jinja, Kyoto, bulan Juli)
* Tenjinmatsuri (Osaka Temmangu, Osaka, 24-25 Juli)
* Kanda Matsuri (Kanda Myōjin, Tokyo, bulan Mei)

Matsuri yang terkenal sejak dulu

Daerah Tohoku

* Nebuta Matsuri (kota Aomori, bulan Agustus) dan Neputa Matsuri (kota Hirosaki, bulan Agustus)
* Kantō Matsuri (kota Akita, bulan Agustus)
* Sendai Tanabata Matsuri (kota Sendai, bulan Agustus)

Daerah Kanto

* Chichibuyo Matsuri (kota Chichibushi, Prefektur Saitama, 2-3 Desember)
* Sanja Matsuri (Asakusa-jinja, Tokyo, bulan Mei)
* Sannō Matsuri (Hie-jinja, Tokyo, bulan Juni)

Daerah Chubu

* Owarafū no bon (kota Toyama, Prefektur Toyama, bulan September)
* Shikinenzōei Onbashira Daisai (kota Suwa, Prefektur Nagano, diadakan setiap 6 tahun sekali, terakhir diadakan bulan April-Mei, 2004).
* Takayama Matsuri (kota Takayama, Prefektur Gifu, bulan April dan bulan Oktober)
* Furukawa Matsuri (kota Hida, Prefektur Gifu, bulan April)

Daerah Kinki

* Aoi Matsuri (Kyoto, bulan Mei)
* Jidai Matsuri (Heian-jingu, Kyoto, bulan Oktober)
* Tōdaiji Nigatsudō Shuni-e atau dikenal sebagai Omizutori (Nigetsu-dō, kuil Tōdaiji, Nara, 12 Maret)
* Kishiwada Danjiri Matsuri (Kishiwada, Prefektur Osaka, 14-15 September)
* Nada no Kenka Matsuri dan Banshū no Aki Matsuri (Prefektur Hyogo, diselenggarakan lebih dari seratus jinja di daerah Banshū dengan pusat keramaian di kota Himeji di bulan Oktober)
* Nachi no Hi Matsuri (Nachi Katsuura, Prefektur Wakayama, bulan Juli)
* Aizen Matsuri, Tenjinmatsuri dan Sumiyoshi Matsuri yang dikenal sebagai "Tiga Matsuri Musim Panas Terbesar di Osaka" (Prefektur Osaka, bulan Juni-Juli)

Daerah Chugoku dan Shikoku

* Saidaiji Eyō (Okayama, Prefektur Okayama, bulan Februari)
* Awa Odori (Tokushima, Prefektur Tokushima, 12-15 Agustus)

Daerah Kyushu

* Hakata Gion Yamakasa (Fukuoka, Prefektur Fukuoka, bulan Juli)
* Nagasaki Kunchi (Nagasaki, Prefektur Nagasaki, 7-9 Oktober)
* Karatsu Kunchi (Karatsu, Prefektur Saga, bulan November)

Pengertian lain

Dalam bahasa Jepang, kata "matsuri" juga berarti festival dan aksara kanji untuk matsuri (祭, matsuri?) dapat dibaca sebagai sai, sehingga dikenal istilah seperti Eiga-sai (festival film), Sangyō-sai (festival hasil panen), Ongaku-sai (festival musik) dan Daigaku-sai (festival yang diadakan oleh universitas).

Shimin Matsuri adalah sebutan untuk matsuri yang diselenggarakan pemerintah daerah atau kelompok warga kota dengan maksud untuk menghidupkan perekonomian daerah dan umumnya tidak berhubungan dengan institusi keagamaan.

Festival dan Matsuri yang lain


* Festival Salju Sapporo (Sapporo, Prefektur Hokkaido, bulan Februari)
* Festival Salju Iwate (Koiwai Farm, Shizukuishi, Prefektur Iwate, bulan Februari)
* YOSAKOI Sōran Matsuri (Sapporo, Hokkaido, bulan Juni)
* Niigata Odori Matsuri (Niigata, Prefektur Niigata, pertengahan bulan September)
* Odawara Hōjō Godai Matsuri (kota Odawara, Prefektur Kanagawa)
* Yosakoi Matsuri (kota Kochi, Prefektur Kochi, 9-12 Agustus)
* Hakata dontaku (3-4 April, kota Fukuoka)
* Hamamatsu Matsuri (3-5 Mei, kota Hamamatsu, Prefektur Shizuoka)
* Wasshoi Hyakuman Natsu Matsuri (kota Kita Kyūshū, Prefektur Fukuoka, hari Sabtu minggu pertama bulan Agustus)

Default Origami

Origami
Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.

Origami adalah sebuah seni lipat yang berasal dari Jepang. Bahan yang digunakan adalah kertas atau kain yang biasanya berbentuk persegi. Sebuah hasil origami merupakan suatu hasil kerja tangan yang sangat teliti dan halus pada pandangan.

Origami merupakan satu kesenian melipat kertas yang dipercayai bermula semenjak kertas mula diperkenalkan pada abad pertama di Tiongkok pada tahun 105 oleh seorang Tiongkok dikasi yang bernama Ts'ai Lun.

Pembuatan kertas dari potongan kecil tumbuhan dan kain berkualitas rendah meningkatkan produksi kertas. Contoh-contoh awal origami yang berasal daripada Republik Rakyat Tiongkok adalah tongkang Tiongkok dan kotak.

Pada abad ke-6, cara pembuatan kertas kemudian dibawa ke Spanyol oleh orang-orang Arab. Pada tahun 610 di masa pemerintahan kaisar wanita Suiko (zaman Asuka), seorang biksu Buddha bernama Donchō (Dokyo) yang berasal dari Goguryeo (semenanjung Korea) datang ke Jepang memperkenalkan cara pembuatan kertas dan tinta.

Origami pun menjadi populer di kalangan orang Jepang sampai sekarang terutama dengan kertas lokal Jepang yang disebut Washi.

Washi (和紙, Washi?) atau Wagami adalah sejenis kertas yang dibuat dengan metode tradisional di Jepang. Washi dianggap mempunyai tekstur yang indah, tipis tapi kuat dan tahan lama jika dibandingkan dengan jenis kertas lain.

Produksi washi sering tidak dapat memenuhi permintaan konsumen sehingga berharga mahal. Di Jepang, washi digunakan dalam berbagai jenis benda kerajinan dan seni seperti Origami, Shodō dan Ukiyo-e. Washi juga digunakan sebagai hiasan dalam agama Shinto, bahan pembuatan patung Buddha, bahan mebel, alas sashimi dalam kemasan, bahan perlengkapan tidur, bahan pakaian seperti kimono, serta bahan interior rumah dan pelapis pintu dorong.

Di Jepang, washi juga merupakan bahan uang kertas sehingga uang kertas yen terkenal kuat dan tidak mudah lusu





Default Sudoku

Sudoku

Dari Wikipedia Indonesia, ensiklopedia bebas berbahasa Indonesia.
Sudoku (数独, sūdoku?), juga dikenal sebagai Number Place atau Nanpure, adalah sejenis teka-teki logika. Tujuannya adalah untuk mengisikan angka-angka dari 1 sampai 9 ke dalam jaring-jaring 9×9 yang terdiri dari 9 kotak 3×3 tanpa ada angka yang berulang di satu baris, kolom atau kotak. Pertama kali diterbitkan di sebuah surat kabar Perancis pada 1895 dan mungkin dipengaruhi oleh matematikawan Swiss Leonhard Euler, yang membuat terkenal Latin square.

Versi modern permainan ini dimulai di Indianapolis pada 1979. Kemudian menjadi terkenal kembali di Jepang pada 1986, ketika penerbit Nikoli menemukan teka-teki ini yang diciptakan Howard Garns.

Nama "Sudoku" adalah singkatan bahasa Jepang dari "Suuji wa dokushin ni kagiru" (数字は独身に限る, "Suuji wa dokushin ni kagiru"?), artinya "angka-angkanya harus tetap tunggal".

Musik Tradisional Jepang (plus alat musiknya)

TAIKO
Kata taiko (太鼓) berarti "drum besar" dalam bahasa Jepang. Di luar Jepang, kata ini digunakan untuk merujuk kepada berbagai jenis drum Jepang (和太鼓, 'wa-daiko', "drum Jepang", dalam bahasa Jepang) dan kepada bentuk seni yang relatif belakangan dalam bentuk ansambel menabuh drum (kadang-kadang lebih khusus disebut, "kumi-daiko" (組太鼓).

Nagado-daiko (長胴太鼓, taiko yang berbadan panjang) terdiri atas dua potong kulit sapi yang dibentangkan di atas sebuah kerangka kayu (biasanya diukir dari satu potong kayu, kini sering dibuat dari sisa-sisa sebuah gentong kayu) dan diregangkan. Kepala dari tsukeshime-daiko (付締め太鼓, seringkali disingkat menjadi, "shime-daiko" atau "shime" saja) dibentangkan di atas cincin-cincin besi dan dijepit di sekitar badan yang lebih kecil. Tali tsukeshime-daiko ditarik hingga ketat sebelum digunakan setiap kalinya. Okedo-daiko (桶胴太鼓, taiko berbadan gentong, seringkali disingkat menjadi "okedo" atau "oke") dapat dipasang di atas sebuah dudukan dan dimainkan seperti taiko lainnya, tapi biasanya digantungkan melintang ke bahu sehingga si pemain drum dapat berjalan dan sekaligus juga memainkannya. Taiko Jepang lainnya mencakup uchiwa-daiko (内輪太鼓、 taiko kipas), hira-daiko (平太鼓, taiko datar), o-daiko (大太鼓, taiko besar), dan serangkaian instrumen tabuh lainnya dalam ansambel tradisional Jepang noh, gagaku, dan kabuki.

Drum okedo-daiko merentang dari yang kecil dan mudah dibawa, hingga drum yang paling besar dari semua drum Jepang. Berbeda dengan nagado, drum ini dapat dibuat dalam berbagai ukuran, namun TIDAK dalam segala ukuran mengingat konstruksi kayu stavenya. Wilayah Aomori terkenal akan festival Nebuta. Di sini okedo besar dimainkan oleh banyak orang sambil dibawa dengan kereta sepanjang jalan. Okedo mempunyai penopang betta-nya sendiri yang diciptakan oleh Hayashi Eitetsu.

Selain itu, seperti nagado-daiko, okedo mempunyai suara pinggiran, yang disebut "ka." Namun, ketika memainkan pinggiran sebuah okedo, penting bagi pemain untuk memukul hanya bagian yang palin luar dari cincin metalnya dan bukan pinggiran dari tubuh drum itu sendiri. Kayu tipis dan ringan dari okedo khususnya mudah penyok dan akan cepat menurun kondisinya bila dipukul.

Penggunaan taiko dalam perang
Di Jepang pada masa feodal, taiko sering digunakan untuk memotivasi pasukan, menolong menentukan langkah barisan, dan mengatur perintah atau pengumuman. Menjelang atau pada saat memasuki pertempuran, taiko yaku (penabuh drum) bertanggung jawab untuk menentukan langkah barisan, biasanya dengan enam langkah untuk setiap pukulan drum (ketukan-2-3-4-5-6, ketukan-2-3-4-5-6).

Menurut salah satu catatan sejarah (Gunji Yoshu), sembilan rangkai dari lima ketukan berarti memanggil sekutu ke medan tempur, sementara sembilan rangkai dari tiga ketukan, yang dipercepat tiga atau empat kalinya, adalah panggilan untuk maju dan mengejar lawan.

Lainnya
Bachi
pemukul kayu yang digunakan untuk memainkan drum taiko.

Ji
juga disebut Jiuchi, adalah irama dasar yang digunakan untuk mendukung irama utama, atau O-uchi. Sebagian dari irama yang lebih lazim untuk ji adalah don doko, don ko, atau don go (pola mengayun). Jikata adalah pemain yang memainkan irama ji.

Oroshi
dicirikan oleh serangkaian pukulan pada taiko. Pemain mulai dengan lambat dengan banyak ma. Pelan-pelan ma (waktu) antara masing-masing pukulan menjadi semakin singkat, hingga penabuh melakukan pukulan yang cepat

Image

Senin, 28 Februari 2011







“Street fashion” berkembang pesat di Jepang dewasa ini. Hal tersebut sangat erat kaitannya dengan peran kalangan anak-anak muda (remaja) di berbagai penjuru kota Jepang yang berlomba-lomba untuk menampilkan sesuatu yang baru dan unik. Tetapi yang lebih penting adalah berbagai gaya yang tercipta pada dasarnya menampilkan kepribadian masing-masing personal. Ada berbagai macam Street Fashion yang tercipta di Jepang, diantaranya yang terkenal adalah Harajuku Style, Cosplay, Ganguro, Lolita, dan Kogal. Street Fashion tersebut dapat dijumpai di kota-kota kawasan Jepang seperti Harajuku, Shibuya, Ginza, Odaiba, dan Shinjuku. Dengan kata lain, Street Fashion telah menjadi suatu trendsetter di Jepang.
Lolita Cloths
Bahkan di negara besar seperti Amerika juga terkena wabah Street Fashion ini, misalnya jika kita lihat dari penampilan live artis Gwen Stefani dalam albumnya yang berjudul ”Love. Angel. Music. Baby.” pada tahun 2004. Pada album tersebut terlihat bahwa Stefani sudah terpengaruh dengan Street Fashion Jepang yaitu dengan menggunakan penari latar (bernama Harajuku Girls) yang mengenakan kostum Gothic Lolita, sedangkan ia sendiri memadukan busana Christian Dior dengan busana gaya Jepang. Dampak lebih jauh yaitu dalam berbagai media, Stefani yang lahir pada tanggal 3 Oktober 1969 ini tidak hanya diakui dan dikenal sebagai penyanyi, pencipta lagu, dan aktris, tetapi juga sebagai seorang fashion trendsetter.
Lolita Cloths
Nampaknya wabah Street Fashion Jepang tidak hanya terjadi di negara adikuasa tetapi juga di Indonesia. Terbukti dengan penampilan beberapa penyanyi dan grup band, baik lokal maupun nasional. Contohnya seperti penampilan Maia Achmad pada Duo-Ratu dan Agnes Monica yang menggunakan konsep Harajuku; demikian halnya dengan Pinkan Mambo (mantan vokalis Duo Ratu) yang menggunakan konsep Lolita Fashion. Sedangkan grup band yang telah terpengaruh dengan kebudayaan Jepang juga tampil dengan konsep Street Fashion seperti J-Rocks, dan bahkan band-band lokal Jogjakarta seperti Restu Ibu, Rev de Kei, Netsubou, dan lainnya.
Tidak kalah menarik; ternyata tidak hanya public figur (entertainer) saja yang mengikuti gaya Street Fashion, tetapi juga kalangan anak-anak muda yang bergabung menjadi suatu komunitas. Di dalamnya mereka bebas berekspresi sesuai dengan karakter masing-masing, bahkan sampai mengadakan beberapa event yang berhubungan dengan kebudayaan Jepang. Tetapi pada kenyataannya mereka tetap menjadi diri sendiri, karena mempelajari kebudayaan asing bukan berarti harus meninggalkan kebudayaan Indonesia. So, buat kamu-kamu yang ingin tampil bergaya ala Street Fashion, tidak ada salahnya bila kamu mencoba sedikit tips dalam hal berpakaian sesuai dengan konsep Street Fashion meskipun sederhana, sebagai berikut:
Langkah-langkah:
  1. Hindari konsep keserasian. Tentu saja, biasanya kita akan lebih suka menjodohkan misalnya jeans warna biru dengan kaus T-shirt favorit kita. Tetapi cobalah memadukan kemeja (kaus berkerah) dengan banyak kaus berwarna-warni di dalamnya.
  2. Untuk aksesoris, dapat memakai legwarmers atau leggings (pembalut kaki), kaus-kaki motif polkadot, beruntai-untai kalung besar (kalung mutiara), topi, dasi, penutup telinga, syal warna-warni, tas tangan, dan lainnya. Buatlah supaya indah/manis.
  3. Makeup yang digunakan usahakan mirip seperti boneka, tetapi jangan berlebihan. Tidak harus menggunakan lisptik berwarna terang, tetapi lebih baik memakai eyeliner yang tebal (jenis liquid, di atas kelopak mata). Jenis makeup tiap-tiap Street Fashion tidaklah sama, oleh karena itu perlu pemahaman lebih lanjut untuk masing-masing gaya tersebut.
  4. Rambut haruslah ditata. Seperti cewek-cewek Harajuku, potongan rambutnya biasanya pendek (gaya bob) yang disertai dengan poni (tinggi di atas alis mata) dan kucir (pendek); atau rambut panjang lurus. Selain itu, mereka biasanya mempunyai rambut yang berwarna-warni, misalnya warna pink terang ataupun warna pelangi. Tidak lupa dengan aksesoris rambut, bisa berupa pita rambut atau jepit rambut yang dipasang dalam jumlah banyak, bahkan sampai berjumlah lima/enam buah.
  5. Gunakanlah sepatu khusus seperti misalnya model platform (sepatu hak tinggi; alas datar; bentuknya mirip dengan sepatu bot).
  6. Japanese street style menggambarkan kepribadian seseorang, tidak cukup hanya dengan memadukan baju (berlapis-lapis), rambut berwarna, dan memakai makeup saja. Gaya tersebut dapat berubah-ubah seiring dengan perkembangan waktu, oleh karena itu anda perlu membaca beberapa buku/majalah fashion sebagai referensi. Bila menginginkan tampil ala Cosplay, manga dan anime dapat menjadi pilihan yang tepat untuk berkreasi. Bisa juga menambah referensi tentang fashion lewat majalah-majalah remaja untuk memadukan gaya busana Indonesia dan Jepang.
Petunjuk:
  • Cobalah untuk tidak berbelanja di toko pakaian biasa atau department store. Tempat berbelanja yang tepat adalah toko/butik kecil dan toko yang menjual berbagai macam aksesoris khusus Jepang.
  • Ingatlah, bahwa ada bermacam-macam street style di Jepang, seperti Ganguro, Harajuku, Lolita, Kogal, dan lainnya. Sebenarnya tidak ada aturan yang pasti untuk menjadi bagian dari street style tersebut, yang bisa dilakukan adalah mempelajarinya dengan tetap mengasah kreativitas.
Hal yang perlu diperhatikan:
  • Jangan berlebihan dalam mengekspresikan diri sesuai dengan konsep street fashion. Misalnya cukup menggunakan maksimal dua lembar kaus dan lima jenis warna saja (tidak termasuk motif garis/ motif lain).

Gaya Busana Harajuku


gaya harajukuSaat ini Harajuku tidak hanya trend di Jepang saja, bahkan sudah menjadi konsumsi masyarakat barat dan dunia. Sebagai contoh, artis yang terinspirasi dengan gaya harajuku adalah penyanyi Gwen Stefani, dan kemudian dengan cepat menjadi trend di Amerika. Padahal awalnya harajuku muncul karena adanya dorongan para generasi muda Jepang, yang ingin memadukan gaya fashion asli tradisional Jepang (seperti kimono dan sandal), dengan gaya modern ala barat. Mereka membentuk komunitas yang selalu berkumpul dengan gaya fashion yang unik di sebuah daerah pusat perbelanjaan di Tokyo, yaitu district Harajuku.
Jadi seperti apa gaya Harajuku yang sebenarnya? Bahkan di daerah asalnya saja (Harajuku district), gaya harajuku selalu mengalami perubahan dan evolusi yang cepat. Kenapa? Karena Harajuku adalah gaya fashion jalanan (street fashion) yang begitu bebas dan natural , sehingga sulit kalau dicari definisinya dengan pasti. Namun mesti tidak ada suatu patokan yang pasti, berikut adalah tips yang dapat membantu anda untuk tampil dengan gaya Harajuku:

1. Lakukan Kombinasi Fashion Yang Berbeda-beda, Baik iIu Matching Ataupun Tidak Matching
Harajuku identik dengan kombinasi style, warna, dan pola yang saling bertubrukan. Misalnya: kombinasi mantel hitam dengan rok pink, atau bahkan pakaian punk rock dikombinasi dengan seragam sekolah. Anda bebas melakukan apa saja yang anda suka, namun bukan berarti bisa melakukannya secara serampangan atau asal-asalan, karena dalam harajuku anda harus mampu menunjukkan image yang kuat tentang diri anda. Anda harus kreatif dan berpikir di luar kotak dalam mengkombinasikan fashion. Untuk mengasah feeling anda, sebaiknya selalu update dengan perkembangan harajuku di daerah asalnya, Harajuku District. Beruntunglah karena saat ini tidak perlu jauh-jauh datang langsung ke Jepang, karena anda bisa menghemat waktu dan biaya dengan browsing secara online

2. Kenali Dulu Berbagai Jenis Variasi Gaya Harajuku
Sangatlah tidak mungkin anda dapat tampil dengan gaya harajuku bila belum mengetahui aliran-aliran dalam harajuku berikut ini:
Gothic Lolita, ini adalah gaya klasik harajuku. Cirinya adalah mengenakan busana campuran antara gothic, feminime, dan elegant. Penampilan gaya Gothic Lolita ini mirip dengan boneka Victoria.
Visual Kei, ini adalah ciri dari japanese rock (fashion ala punk, gothic, sampai heavy metal) dengan model rambut eksentrik, dan dipadu dengan berbagai aksesoris, make up, dan tindik (konsultasi dengan orang tua anda mengenai tindik).
Cosplay, ini adalah gaya busana yang terinspirasi dari tokoh game, tokoh anime, atau tokoh kartun favorit anda.
Decora style, yaitu style dengan perpaduan warna yang ngejreng, flamboyant, dengan berbagai pernik aksesoris dari kepala sampai ujung kaki. Bahkan saking banyaknya aksesoris yang dipakai, setiap saat bergerak, semua aksesoris tersebut akan berbunyi secara bersamaan. 
Kawaii, artinya adalah cute, ini merupakan gaya anak-anak yang riang atau ceria. Anda bisa mengambil inspirasi dari tokoh anime, mainan, warna-warna pastel dan sebagainya.
Ganguro, cirinya adalah fashion dengan warna-warna cerah, rok mini, gelang, kalung, lipstick dengan waran putih, eye shadow, dan rambut yang di bleaching dengan warna abu, silver, atau orange.
Wamono, yaitu gaya memadukan antara busana barat dengan gaya tradisional jepang.

3. Cobalah Bereksperimen Dengan Busana Yang Berlapis
Salah satu keunggulan dari gaya harajuku adalah layering atau pakaian yang berlapis-lapis. Sweater, rompi, jacket, blus, gaun, legging, dan yang lainnya. Pemakaian busana yang berlapis atau yang memberi kesan berlapis (misalnya busana dengan model berkerut) akan memberikan banyak pilihan dalam gaya berfashion anda.
4. Desain Sendiri Model Pakaian Anda
Mendesain sendiri adalah gaya yang popular dalam harajuku. Bongkar lemari pakaian anda. Kumpulkan pakaian yang sudah lama tidak anda kenakan. Lalu kreasikan, misalnya: rok motif bunga bisa ditambah dengan pita atau bahkan dengan sesuatu yang ganjil, misalnya diberi lipatan pada sudut tertentu.Bahkan gaun hitam polos yang membosankan pun bisa anda ubah menjadi lebih menyenangkan. Caranya? Ambil gunting, lalu desain sendiri sesuai keinginan anda!  

5. Gunakan Aksesoris Yang Bersemangat
Gunakan aksesoris yang menarik perhatian seperti perhiasan, anting, dasi, aksesoris rambut, ikat pinggang, sarung tangan, kaos kaki, dan apapun yang dapat membumbui penampilan anda. Biasanya aksesoris tersebut berwarna ngejreng dan tidak perlu matching dengan busana anda. Apalagi dengan gaya decora , lonceng yang dapat berbunyi pun dapat digunakan sebagai aksesoris.

6. Menggunakan Make Up Dan Gaya Rambut Yang “Liar”
Gaya harajuku tidak hanya tentang cara berpakaian, kuncir rambut termasuk gaya yang popular disamping rambut yang berwarna warni. Make up pun dibuat lebih kreatif, bahkan gaya make up seperti bermain theater pun bisa menjadi hal baru yang menyenangkan.

7. Gunakan Apapun Yang Terlihat Bagus Untuk Anda
Gaya harajuku bukan hanya melulu perwujudan protes terhadap gaya fashion saat ini (seperti yang dilakukan gaya punk harajuku), tetapi lebih daripada itu, yaitu bagaimana semuanya tampak indah dikenakan oleh anda. Jika menurut anda stocking corak pelangi atau polka dot cocok dikombinasikan dengan pakaian wol kotak-kotak, maka lakukan lah dengan cara anda!

8. Tersenyum lah dan katakana “chiizu” (cheez dalam bahasa inggris)
Jika anda mengenakan di luar daerah Harajuku District, tentu akan mengundang perhatian orang-orang yang tidak pernah mengenal gaya harajuku. Meskipun perhatian tersebut tampak tidak positif, tetaplah tersenyum dengan anggun, tegakkan kepala anda, jadilah diri sendiri, dan tetaplah bangga dengan apa yang anda kenakan. Namun bila anda mendapat tanggapan positif, bertanya-tanya pada anda, bahkan ingin berfoto bersama anda. Selamat! Anda sukses dengan gaya harajuku anda.
Lalu bagaimana dengan gaya harajuku di Indonesia? Bukan berarti anda harus mengikuti 100% tips di atas. Bisa saja anda menjadikan ini sebagai ide tambahan untuk gaya busana anda, dengan mengambil sebagian unsur harajuku. Ingat! Bahkan di Jepang pun, kebanyakan dari para pria dan wanita hanya berpakaian harajuku ketika mereka berkumpul di saat weekend, dan di hari biasa mereka kembali dalam gaya busana yang normal. Yang penting mereka menemukan cara untuk have fun! Kecuali kalau anda termasuk orang yang sangat PD dan ingin selalu tampil beda. Semoga tips tentang gaya harajuku tersebut dapat memberi inspirasi bahkan memberi dimensi baru dalam gaya berfashion anda.